Widget HTML #1

Teknologi Komunikasi, Pengertian dan Perkembangannya

Teknologi Komunikasi

Jaringan Sibuk. Teknologi telekomunikasi merupakan salah satu teknologi yang berkembang dengan sangat cepat. 

Teknologi komunikasi mulai dengan berkembangnya pemanfaatan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol). 

Teknologi satelit memungkinkan melakukan komunikasi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. 

Teknologi komunikasi merupakan teknologi dalam penyebaran informasi baik untuk tingkat regional maupun internasional. 

Dalam teori komunikasi dikenal dengan sistem komunikasi yang terdiri atas sumber informasi, informasi yang disebarkan, saluran komunikasi, dan penerima informasi. 

Teknologi komunikasi dalam sistem komunikasi analog dengan saluran komunikasi.

Perkembangan Teknologi Komunikasi

Tonggak perkembangan teknologi komunikasi yang secara nyata memberikan sumbangan terhadap perkembangan TIK sampai saat ini adalah ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. 

Selanjutnya berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi transatlantik. 

Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. 

Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. 

Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. 

Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. 

Selanjutnya, pada tahun 1990-an mulai berkembang teknologi komunikasi yang dapat dibawa ke mana-mana atau mobile yang sifatnya masih sederhana, sebagai contoh teknologi pager yang memberitahukan keberadaan seseorang dalam kebutuhannya berkomunikasi.

Teknologi Bergerak (Mobile

Teknologi mobile mengalami beberapa tahap perkembangan sejak dikenalnya 1G. 

Perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:

Teknologi telekomunikasi bergerak (mobile technology)

Teknologi ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dimulai dengan layanan yang kita kenal 1G (satu giga) sampai dengan 5G (lima Giga). 

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, ketika penggunaan pager sekitar 12 tahun yang lalu untuk menyampaikan pesan kepada teman. 

Pager merupakan alat komunikasi bergerak pertama yang sempat populer di kota-kota besar di Indonesia. 

Teknologi pager dikategorikan dalam kategori simplex transmission dimana komunikasi hanya dapat dilakukan satu arah dari operator ke pengguna saja. 

Generasi Pertama Telekomunikasi Bergerak (1G) berumur tidak sampai setahun. 

Teknologi komunikasi tersebut mulai beroperasi di Indonesia dengan nama teknologi AMPS (Advanced Mobile Phone System). 

AMPS digolongkan ke dalam teknologi telekomunikasi bergerak generasi pertama yang menggunakan teknologi analog, dimana AMPS bekerja pada band frekuensi 800 MHz dan menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access). 

Dalam FDMA, pengguna dibedakan berdasarkan frekuensi yang digunakan, dimana setiap user menggunakan jalur dengan frekuensi 30 KHz. 

Hal itu menunjukkan bahwa tidak boleh ada dua pengguna yang menggunakan jalur yang sama baik dalam satu sel maupun sel yang lain.

Oleh karena itu, AMPS membutuhkan alokasi frekuensi yang besar. 

Saat itu kita sudah memakai handphone tetapi masih dalam ukuran yang relatif besar dan baterai yang besar karena membutuhkan daya yang besar.

Generasi Kedua Telekomunikasi Bergerak (2G)

GSM (Global System for Mobile Communications) mulai menggeser AMPS diawal tahun 1995. 

PT. Telkomsel dan PT. Satelido (sekarang PT.Indosat) adalah dua operator pelopor teknologi GSM di Indonesia. 

GSM menggunakan teknologi digital. 

Ada beberapa keunggulan menggunakan teknologi digital dibandingkan dengan analog seperti kapasitas yang besar, system security yang lebih baik dan layanan yang lebih beragam. 

GSM menggunakan teknologi akses gabungan antara FDMA (Frequency Division Multiple Access) dan TDMA (Time Division Multiple Access) yang awalnya bekerja pada frekuensi 900 Mhz dan ini merupakan standard yang pelopori oleh ETSI (The European Telecommunication Standard Institute) dimana frekuensi yang digunakan dengan lebar pita 25 KHz pada band frekuensi 900 Mhz. 

Pita frekuensi 25 KHz ini kemudian dibagi menjadi 124 carrier frekuensi yang terdiri dari 200 KHz setiap carrier. 

Carrier frekuensi 200 KHz ini kemudian dibagi menjadi 8 time slot dimana setiap user akan melakukan dan menerima panggilan dalam satu time slot berdasarkan pengaturan waktu.

Teknologi GSM sampai saat ini paling banyak digunakan di Dunia dan juga di Indonesia karena salah satu keunggulan dari GSM adalah kemampuan roaming yang luas sehingga dapat dipakai di berbagai Negara. 

Akibatnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Keceptan akses data pada jaringan GSM sangat kecil yaitu sekitar 9.6 kbps karena pada awalnya hanya dirancang untuk penggunaan suara. 

Saat ini pelanggan GSM di Indonesia adalah sekitar 35 juta pelanggan.

CDMA One (Code Division Multiple Access) merupakan standard yang dikeluarkan oleh Telecommunication Industry Association (TIA) yang menggunakan teknologi Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) dimana frekuensi radio 25 MHz pada band frekuensi 1800MHz dan dibagi dalam 42 kanal yang masing-masing kanal terdiri dari 30KHz. 

Kecepatan akes data yang bisa didapat dengan teknologi ini adalah sekitar 153.6 kbps.

Dalam CDMA, seluruh user menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu yang sama. 

Oleh karena itu, CDMA lebih efisien dibandingkan dengan metode akses FDMA maupun TDMA. 

CDMA menggunakan kode tertentu untuk membedakan user yang satu dengan yang lain. 

Pada tahun 2002, teknologi CDMA mulai banyak digunakan di Indonesia. 

Teknologi CDMA 2000 1x adalah teknologi yang menyamai perkembangan yang baik di Indonesia. 

CDMA baru diperkenalkan sekitar 7 tahun, lebih terlambat dibandingkan dengan GSM.

Meskipun secara teknologi CDMA 20001x lebih baik dibandingkan dengan GSM akan tetapi kehadiran CDMA ternyata tidak membuat pelanggan GSM berpaling ke CDMA. 

Ada beberapa keunggulan teknologi CDMA dibandingkan dengan GSM seperti suara yang lebih jernih, kapasitas yang lebih besar, dan kemampuan akses data yang lebih tinggi.

Berbeda dengan metode akses TDMA dan FDMA maka CDMA menggunakan kode-kode tertentu untuk membedakan setiap user pada frekuensi yang sama. 

Karena menggunakan frekuensi yang sama maka daya yang dipancarkan ke BTS dan juga daya yang diterima harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu user yang lain baik dalam sel yang sama atau sel yang lain dan ini dapat diwujudkan dengan menggunakan mekanisme power control.

Beberapa operator di Indonesia yang telah mengimplementasikan teknologi CDMA 2000 1x ini antara lain Telkom yang dikenal dengan Flexi, Indosat dengan nama StarOne, Mobile 8 dengan nama Fren, Bakrie telecom dengan nama Esia. 

Operator CDMA di Indonesia dikategorikan ke dalam kategori FWA (Fixed Wireless Access) sehingga mobilitasnya sangat terbatas. 

Padahal sebenarnya CDMA juga dapat menyamai GSM apabila dilakukan dengan kemampuan mobilitas yang penuh.

Generasi kedua-setengah Telekomunikasi Bergerak (2.5G) 

Pada awalnya akses data yang dipakai dalam GSM sangat kecil hanya sekitar 9.6 kbps karena memang tidak dimaksudkan untuk akses data kecepatan tinggi.

Teknologi yang digunakan GSM dalam akses data pada awalnya adalah WAP (Wireless Application protocol). 

Namun, teknologi ini kurang mendapat sambutan yang baik dari pasar. 

Kemudian, diperkenalkan teknologi GPRS (General Packet Data Radio Services) pertama sekali oleh PT.Indosat Multi Media (IM3) pada tahun 2001 di Indonesia. 

Secara teoritis kecepatan akses data yang dicapai dengan menggunakan GPRS adalah sebesar 115 Kbps dengan throughput yang didapat hanya 20 – 30 kbps. 

GPRS juga memungkinkan untuk dapat berkirim MMS (Mobile Multimedia Message) dan juga menikmati berita langsung dari Hand Phone secara real time

Pemakaian GPRS lebih ditujukan untuk mengakses internet yang lebih flexibel dimana saja dan kapan saja.

Operator telekomunikasi yang mengimplementasikan GPRS sudah membuat berbagai pola pentarifan. 

Pentarifan dilakukan berdasarkan harga per KB data yang didownload dan dengan fixed rate, yaitu setiap pemakai GPRS dapat menggunakan 24 jam dan dikenakan biaya sebesar tertentu misalnya Rp350.000 per bulan. 

Penerapan tarif fixed rate ternyata mendapat sambutan yang cukup banyak dari pemakai GPRS, terutama yang biasa menggunakan internet di rumah atau di kantor dengan bantuan sarana handphone GPRS dan sebuah laptop atau PC. 

Program ini kurang lebih berjalan satu tahun. 

Selanjutnya, pentarifan GPRS dikembalikan ke pola semula berdasarkan jumlah data yang didownload. 

Hal ini berakibat pemakai GPRS menurun drastis karena penggunaan internet untuk browsing, email, dan chatting saja harus membayar sekitar 1-2 juta rupiah perbulan. 

Dengan biaya bulanan seperti itu tentunya hanya sedikit yang mampu memakai GPRS untuk mengakses internet. 

Teknologi selanjutnya disebut dengan EDGE (Enhanced Data for Global Evolusion) yang hanya sempat diimplementasikan oleh PT. Telkomsel dan sebentar umurnya. 

Teknologi Telekomunikasi Generasi ketiga

Teknologi generasi ketiga sering disebut juga dengan teknologi 3G. 

Teknologi 3G didapatkan dari dua buah jalur teknologi telekomunikasi bergerak. 

Pertama adalah kelanjutan dari teknologi GSM/GPRS/EDGE dan yang kedua kelanjutan dari teknologi CDMA (IS-95 atau CDMAOne). 

UMTS (Universal Mobile Telecommunication Service) merupakan lanjutan teknologi dari GSM/GPRS/EDGE yang merupakan standar telekomunikasi generasi ketiga dimana salah satu tujuan utamanya adalah untuk memberikan kecepatan akses data yang lebih tinggi dibandingkan dengan GRPS dan EDGE.

Kecepatan akses data yang bisa didapat dari UMTS adalah sebesar 384 kbps pada frekuensi 5KHz, sedangkan kecepatan akses yang didapat dengan CDMA1x ED-DO Rel. 0 sebesar 2.4 Mbps pada frekuensi 1.25MHz dan CDMAx ED-DO rel.A sebesar 3.1 Mbps pada frekuensi 1.25 MHz yang merupakan kelanjutan dari teknologi CDMAOne. 

Berbeda dengan GPRS dan EDGE yang merupakan overlay terhadap GSM maka 3G sedikit berbeda dengan GSM dan cenderung sama dengan CDMA.

3G yang oleh ETSI disebut dengan UMTS (Universal Mobile Telecommunication Services) memilih teknik modulasi WCDMA (wideband CDMA). 

Pada WCDMA digunakan frekuensi radio sebesar 5 Mhz pada band 1.900 Mhz (CdmaOne dan CDMA 2000 menggunakan spectrum frekuensi sebesar 1.25 MHz) dan menggunakan chip rate tiga kali lebih tinggi dari CDMA 2000 yaitu 3.84 Mcps (Mega Chip Per Second).

Secara teknik dalam jaringan UMTS terjadi pemisahan antara circuit switch (cs) dan packet switch (ps) pada link yang menghubungkan mobile equipment (handphone) dengan BTS (RNC). 

Sedangkan pada GPRS dan CDMA 2000 1x tidak terjadi pemisahan melainkan masih menggunakan resource yang sama di air interface (link antara Mobile Equipment dengan Base Station). 

HSPDA (Higth Speed Packet Downlink Access) merupakan kelanjutan dari UMTS dimana ini menggunakan frekuensi radio sebesar 5MHz dengan kecepatan mencapai 2 Mbps.

Ada 5 operator telekomunikasi di Indonesia yang telah memiliki lisensi 3G (IMT 2000). 

Tiga diantara operator tersebut adalah operator yang telah memberikan layanan telekomunikasi generasi kedua (GSM) dan kedua setengah (GPRS). 

Jika operator tersebut akan mengimplementasikan teknologi UMTS maka ada penambahan perangkat seperti base station (Node B) dan RNC (Radio Network Controller) dan upgrade software. 

Adapun yang harus di upgrade adalah pada radio akses karena GSM menggunakan metode akses TDMA dan FDMA dan menggunakan frekuensi radio 900KHz dan 1800 MHz sedangkan UMTS menggunakan metode akses WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) dengan frekuensi radio 5 MHz. 

Oleh karena itu perlu penambahan radio access network control (RNC) dan juga perlu penambahan base station WCDMA (Node B) dan tentunya juga terminal harus diganti dan juga upgrade software pada MSC, SGSN dan GGSN.

Oleh karena itu untuk mengimplementasikan UMTS sebagai teknologi generasi ketiga membutuhkan biaya yang besar. 

Biaya tersebut diperuntukkan untuk membayar lisensi 3G kepada pemerintah, membayar lisensi 3G kepada vendor 3G, biaya penambahan Base Station/ Node B, RNC (Radio Network Controller) dan biaya upgrade software pada MSC (Mobile Switching Centre), SGSN (Serving GPRS Support Node), GGSN (Gateway GPRS Support Node) dan jaringan lain.

Salah satu contoh layanan yang paling terkenal dalam 3G adalah video call dimana gambar dari teman kita bicara dapat dilihat dari handphone 3G kita. 

Layanan lain adalah, video conference, video streaming, baik untuk Live TV maupun video portal, Video Mail, PC to Mobile, serta Internet Browsing.

Tantangan yang muncul adalah, Apakah pelanggan membutuhkan layanan tersebut? Jawabannya kita bisa perdebatkan. 

Adalah sangat bijaksana jika kita melihat layanan sebelumnya yang sudah pernah ada. 

Kita mulai dengan layanan WAP (Wireless Application Protocol) pada jaringan GSM dimana kita bisa mengakses berita melalui handphone berarti kita bisa melakukannya dimana saja dan kapan saja. 

Apakah layanan ini digolongkan sukses? 

Sangat sedikit orang yang menggunakannya waktu itu sehingga admin menyebutnya layanan yang tidak sukses.

Kenapa tidak sukses? 

Selain dari faktor utama kebanyakan pengguna belum membutuhkan, akses data yang lambat dibandingkan dengan akses lain seperti dial-up dan WLAN merupakan alasan lain dan juga pelanggan kurang puas dengan tampilan yang kecil di layar handphone.

Sekarang kita bandingkan dengan layanan SMS (Short Message Services) yang awalnya tidak diperkirakan akan menjadi success story karena hanya teks singkat. 

Lalu kenapa sms menjadi killer application

Alasan pertama adalah, SMS tidak membutuhkan banyak perangkat tambahan dalam jaringan GSM sehingga tidak membutuhkan investasi yang besar dan yang kedua teknologi SMS mudah dimengerti, mengirim dan menerima sms itu mudah maka orang mudah mengerti fungsinya sehingga mereka menilainya layanan yang realistis.

Banyak orang mempelajari fenomena sms ini tetapi tidak dapat dibuat suatu rumusan yang baku untuk membuat layanan baru supaya bisa sukses seperti sms. 

Akan tetapi ada beberapa yang dapat dipelajari dari kesuksesan sms untuk memberikan layanan baru yaitu:

  • Layanan yang diberikan harus sederhana
  • Implentasi teknologinya juga harus mudah
  • Interoperabiliti dengan jaringan lain dibuat semudah mungkin Fungsi dari layanan tersebut harus mudah dimengerti
  • Pola pentarifan yang digunakan disesuaikan dengan layanan sejenis.

UMTS merupakan kelanjutan dari teknologi GSM/GPRS dimana perbedaan utamanya adalah kemampuan akses data yang lebih cepat. 

Kecepatan akses data dalam UMTS bisa mencapai 2Mbps (indoor dan low range outdoor). 

Akan tetapi jika kita bandingkan dengan GPRS maka kecepatan datanya juga bisa mencapai 115 kpbs dimana untuk penggunaan akes internet sudah memadai.

Dalam analisa admin, GPRS kurang sukses di pakai di Indonesia karena belum banyak pelanggan yang membutuhkan akes internet dalam keadaan bergerak, tarif yang mahal dibandingkan dengan layanan yang diberikan oleh WLAN, kecepatan akses data yang belum stabil merupakan beberapa alasan kurang suksesnya implementasi teknologi GPRS.

Generasi keempat Teknologi Telekomunikasi Bergerak (3.5G dan 4G)

Untuk meningkatkan kecepatan akses data yang tinggi dan full mobile maka standar IMT-2000 di tingkatkan lagi menjadi 10Mbps, 30Mbps dan 100Mbps yang semula hanya 2Mbps pada layanan 3G. 

Kecepatan akses tersebut didapat dengan menggunakan teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) dan Multi Carrier. 

Demikian uraian mengenai Teknologi Komunikasi, Pengertian dan Perkembangannya, semoga dapat bermanfaat.

Terima Kasih.

Salam Literasi Digital.

Post a Comment for "Teknologi Komunikasi, Pengertian dan Perkembangannya"